Large Rainbow Pointer

Jumat, 18 Mei 2012

Tragedi Restoran Jepang

Saat ini kami sekeluarga sedang dalam kondisi 'beli makan di luar rumah'. Kalau tidak ya terjebak dengan makanan kalengan dan tinggal goreng. Malam ini adikku meminta nasi goreng. Sementara aku yang dari kemarin overdosis cabe menolak.

Akhirnya aku disuruh beli makan sendiri di luar. Dengan kondisi perut yang kebanyakan cabe ini, menu yang kupilih adalah: ayam goreng. Krispi. Di luar langit sudah menyala-nyala karena kilat. Firasat buruk. Tapi aku tetap mengendarai motorku dengan santai.

Senin, 30 April 2012

Menunggu hanya meninggalkan debu

Apa yang harus dibicarakan lagi?
Tidak ada. Nyatanya semua topik telah berlalu, enggan.
Apa yang harus dibahas lagi?
Kalau semua sudah jelas. Benar adanya di depan mataku.

Jadi, apalagi? Kenapa aku masih begini. Sejak awal aku sudah tahu. Tapi aku tidak mampu mencegahnya, paling tidak membendungnya. Keyakinan yang membunuhku.

Serentak.
Hanya menyisakan detak.

Sial. Menunggu hanya meninggalkan debu.

Meninggalkan asa, yang kini bersamanya.

Jumat, 27 April 2012

Aku Ingin Jujur

Bukan aku tidak ingin cerita padamu kawan... Serius. Bisa saja sekarang aku SMS nomormu dan 'tumpah'kan semua seperti biasanya. Tapi selalu semua itu berakhir dengan bungkam.

Sama sekali bukan karena aku tidak percaya.

Tapi aku bisa menebak reaksimu. Pandanganmu. Tindakanmu.

Lebih baik seperti ini. Sekalipun keinginanku untuk jujur sudah menggantung di lidah.

Minggu, 22 April 2012

B

Dalam suatu waktu, aku terlibat dalam satu dialog

O (orang): eh tau ga?
A (aku): apa?
O: si X tadi sms aku lima kali dan telepon 37 detik... Seneng banget walau ini ngomongin masalah kerjaan...
A: hwakakakakakakaaaaaaaaa
...
A: (terpaku)

Hai, O, asal kamu tahu. Aku pun pernah berada di posisi itu. Ga peduli acaranya serempong apapun, aku juga senang saat hapeku bergetar menampilkan nama, eh, sebut saja itu, B. Klasik, konyol, dirasakan jutaan manusia se dunia. Bagaimana hal yang menguntungkan pihak operator seluler itu bisa bikin seseorang menahan jerit kegirangan.

Sial. Memang. Itu cerita zaman kapan. Saat kukira aku sudah ga bakal ngerasain hal remeh begituan sejak lulus SMP, ternyata di kelas dua ini... Mellow. Drama. Lebay. Apaan sih. Konyol. Bikin males. But B, you were damn success make me mad.


Saat itu playlistku penuh lagu-lagu macam Tiba-tiba cinta datang kepadaku, Kuharap dia rasakan yang sama (Maudy Ayunda_-_Tiba-tiba Cinta Datang Kepadaku)... Atau baby cause i dont need anything else but your love (Glee_-_As Long As You're There), What started out as friendship has grown stronger I only wish I had the strength to let it show (Chicago_-_Can't Fight This Feeling Anymore)

ABG labil banget ga sih. Percaya awalnya aku kira itu histeria sesaat. Sesuatu ga penting dan akan lewat seiring waktu. Merde!!!



I don't want this moment, to ever end, Where everything's nothing, without you. (Sum41_-_With Me).


Jumat, 30 Maret 2012

Kau Pikir Aku Penyabar Ulung?

Aku capek. Tapi bukan berarti aku menyerah.

Aku ga mau tau. Tapi bukan berarti aku ga peduli.

Aku diam. Tapi bukan berarti aku pasrah.

Aku tenang. Tapi aku bukan SEORANG PENYABAR ULUNG.

Aku hanya mengontrol emosiku sebaik mungkin, aku terlalu angkuh untuk menunjukkan luapannya.

TAPI BUKAN BERARTI KAU BISA SEENAKNYA!!!!!!!!

Sial kau. Aku lupa bagaimana kau bisa memperhatikan hal semacam itu? Cuma dirimu sendiri. Bukan egois, karena semua orang pasti egoistik. Tidak. Kau buta akan kenyataan ada orang selain dirimu. Iya kan?


Bisa sekali-kali bungkam keluhanmu, dan dengar keluhan orang lain?

Bisa sekali-kali merasakan capeknya orang lain alih-alih cuma bilang capek tanpa melakukan apapun?

Bisa sekali-kali peduli sekitar dan berhenti merasa hidupmu yang paling merana?

Bisa sekali-kali berhenti menyalahkan orang lain dan mengakui kesalahan sendiri?

Bisa sekali-kali berhenti komentar, baca post ini, dan berkaca? 

Bisa sekali-kali kita  jujur, dan aku tak perlu memasang topeng SABARku? Bisa?