Large Rainbow Pointer

Senin, 25 April 2011

Short Story Sensation: Nessa

Cerpen ini sebenarnya uda lama aku buat, dan ada tugas pelajaran Bahasa Indonesia buat cerpen. Tapi aku malas bikin baru jadi pakai cerpen ini deh. Well... Based on Hope Story huakakaka....

Nessa
Oleh: Alifia Rahmawati


Bel tanda istirahat sudah berakhir, tapi aku masih belum beranjak dari kursiku. Tere, teman sebangkuku sudah mengajakku pergi, tapi aku menolak. Malas, alasan standar.
            Kelas sepi, semua anak pergi keluar. Istirahat 20 menit benar-benar dimanfaatkan untuk melepas penat. Jangan pikir aku tidak, beginilah caraku mengistirahatkan otak.
            Walau sebenarnya yah…
            Sebenarnya alasanku tak mau keluar karena…
Dia yang kucari tidak ada.
Biasanya waktu istirahat begini aku suka keluar, walau sekedar duduk-duduk di beranda kelas bersama teman-teman. Mendengarkan cerita-cerita heboh Viona, gosip-gosip baru dari Nada,dan juga memerhatikan aksesoris baru Tere.
Walau begitu mataku siaga.
            Kadangkala aku lihat dia sedang berbicara dengan guru, keluar masuk kelas membawa setumpuk kertas, pergi bersama teman-temannya menuju kantin, atau sendirian ke perpustakaan. Kalau sudah begitu obrolan sahabat-sahabatku nyaris tak kuperhatikan, mataku terpaku ke arahnya, mengikuti tiap geraknya.
            Yah,sudah lama aku memerhatikannya. Setahun yang lalu, dan setahun itu juga aku belum pernah berbicara dengannya. Sedih, aku yakin dia pun tidak tahu namaku, pikirku nelangsa.
            Sepertinya benar-benar sepi, bahkan  di luar kelas. Oya aku lupa, ada promo gratis di luar, pasti semua ke lapangan, ikut main games dan dapat produk gratis. Tapi aku benar-benar malas ke lapangan, jadi aku pergi duduk di beranda kelas.
            Meong.                                               
            Loh, kucing?. Aku mencari asal suara itu, tapi tak kutemukan. Aneh, sepertinya suara itu dekat-dekat sini.
            Meong. Ada lagi! Aku langsung menengok menuju sumber suara yang ternyata berasal dari belakang. Dan dari belakan pot itu muncul sebuah kepala kucing berwrna hitam.
            Kucing hitam?
            Si kucing hitam kini benar-benar keluar dari persembunyiannya. Warna matanya hijau kebiruan indah, dan tampaknya kelaparan.
            Seharusnya aku waspada, kan kucing hitam kabarnya membawa sial.
Ah bodo amat percaya takhayul, pikirku. Toh aku sudah sial dengan tidak masuknya dia hari ini, membutku tak bersemangat.
            Kucek kantungku, masih ada tahu tadi pagi. Aku membawanya sebagai bekal dan belum aku makan. Kucuil kecil dan menyodorkannya pada si kucing.
            “Hanya tahu,” kataku tersenyum kecil, seolah aku bisa bicara dengan si kucing.
            Kucing itu mendekat, awalnya pelan-pelan, tapi kemudian berlari, berhenti tepat di depanku. Hidungnya mengendus-endus tahu yang kubawa. Kuletakkan tahu itu hati-hati di lantai, dan si kucing memakannya.
            Aku baru sadar kucing itu memakai kalung. Well, siapa yang mau memakaikan kalung ke kucing yang dianggap sial? Berarti dia punya orang lain dong.
            Miauw. Kucing itu mengeong lagi begitu tahunya habis. Sepertinya dia inging lagi. Kuberikan secuil tahu lagi dan selagi dia makan dengan hati-hati kucek kalungnya.
            Bandulnya terbuat dari kayu persegi, dan di atasnya terdapat sebuah tulisan rapi dan jelas. Nessa.
            Oh… Nama kucing ini Nessa. Sepertinya terlalu bagus untuk nama bagi seekor kucing, tapi aku suka.
            Kucing itu memandangiku, tatapannya penasaran. Kemudian kucing itu menyeringai lucu, memamerkan tarinya yang kecil, lalu berlari.
            “Hey!” kukejar kucing itu. Nessa berlari, berhenti sebentar untuk memandangiku, lalu berbelok.





            Kukejar dia sampai halaman belakang sekolah yang sepi. Semua anak bisa dipastikan menuju halaman depan. Di sudut halaman belakang ada taman yang ditutup pintu bambu. Pintu itu setengah terbuka, dan Nessa masuk.
            Aku belum pernah masuk ke dalamnya, dan aku terkejut. Taman ini tak begitu luas tapi tertata rapi. Sepertinya ini apotek hidup. Aku tak pernah tahu ada apotek hidup di sekolah ini, dan aku tidak pernah dengar ada yang membicarakannya.
            Kulihat Nessa kini bergelayut manja di kakiku. Tiba-tiba aku kasihan padanya. Banyak orang membenci kucing hitam karena dianggap membawa sial, padahal menurutku Nessa kucing yang manis. Orang yang memberinya nama Nessa pasti orang baik.
            Kuputuskan tempat ini menjadi tempat rahasiaku, dan sepertinya Nessa mengizinkanku. Ia memaksaku mengikutinya menuju sudut taman dan mengeong manja. Di sudut ada sebuah peti yang tertutup, sepertinya tempat menyimpan peralatan. Kubuka peti itu, tidak terkunci. Tebakanku benar, isinya alat berkebun. Tapi ada yoyo, bola tenis, dan benang wol di sana, juga sekaleng biscuit dan sebuah mangkuk plastik kecil.
            “Meong…” Nessa mengeong manja, matanya bergantian melirikku dan mainan-mainan itu. Kuambil yoyo dan mencoba memainkannya sebentar. “Kau sudah makan kan?” tanyaku seolah kucing itu mengerti apa yang kuucapkan. “Mau main?”
            Kumainkan yoyo itu sejauh mungkin, bergaya seolah aku tahu triknya. Yoyo itu berputar dan mengenai wajahku. “Auw!”
            Nessa memandangiku, sepertinya tampak geli lalu mengeong. Kupandang gemas yoyo itu, kemudian beralih ke Nessa. “Yang tadi itu pemanasan ya,” kataku. Nessa mengeong lagi, lalu melompat-lompat.
            Kucoba lagi memainkannya, kali ini lebih berhati-hati. Aku pernah melihat orang bermain yoyo, well dia cukup jago memainkannya. Astaga, memikirkannya membuat rasa kecewaku kembali lagi. Aku mengerang, dan tanpa sengaja yoyo itu terjatuh dari tanganku.
            Nessa memungut yoyo itu dengan mulutnya, matanya memandangku. Kuambil yoyo itu dan tersenyum samar. “Oh astaga kau belum tahu namaku ya,” kataku geli. Nessa mengeong lagi.
            “Aku Nina, kamu Nessa kan?” kataku sambil memainkan yoyo itu. Nessa berusaha mengambil yoyo itu dan akupun berdiri sambil tertawa. Aku mulai mengerti permainannya. Nessa mengeong dengan semangat, melompat-lompat kecil sementara aku memainkannya, kali ini tak peduli bila yoyo itu mengenaiku lagi. Untung jarak pot di sini cukup jauh dan cukup banyak lahan kosong, sepertinya tempat ini masih baru, sehingga aku tak perlu khawatir memecahkan salah satu pot di sini.
            Hap! Nessa berhasil menagmbil yoyo itu, merebutnya dariku lalu memainkkannya sendiri sebentar. Matanya menatapku lagi, mengeong penuh kemenangan. Kupandangi Nessa dengan gemas lalu duduk di sampingnya. Berteman dengan kucing itu mudah ya, pikirku. Aku kembali berdiri, mengambil bola wol, lalu duduk lagi. Nessa memandangi wol itu dengan pandangan ingin. Kulempar wol warna oranye itu, dan Nessa mulai memainkannya sendiri.
Treeeet… Bel tanda istirahat selesai berbunyi. Aku terlonjak kaget, begitu juga Nessa. Nessa memandangiku, akupun juga. Kupasang senyum sedihku, tulus, aku masih ingin bermain. Walau hanya sebentar tapi bermain dengan Nessa membuatku merasa seperi anak kecil lagi, bebas. Nessa sepertinya paham, ia mengeong pelan. Kudekati dan kugelitik lehernya, lalu mengusap kepalanya. Nessa mengeong cepat dan berputar-putar di kakiku sebentar, lalu memandangku lagi. Kali ini ia mengeong lebih keras. Aku berdiri dan beranjak keluar. “Aku akan kembali,” janjiku lalu pergi.
            Bisa kudengar suara Nessa di belakang terdengar bersemangat.

***
         
Bel pulang berbunyi. Tere, Viona dan Nada mengajakku makan mie ayam, tapi aku menolak. Alasan sederhana: malas makan dan ngantuk. Diam-diam aku ke kantin, membeli satu kotak susu cair lalu ke belakang menuju apotek hidup.
            Nessa masih di sana, tidur. Tubuhnya bergelung, kumisnya bergerak-gerak begitu juga telinganya. Matanya membuka kemudian mengeong pelan. Kuambil mangkuk kecil di peti dan kutuang dengan susu. Nessa yang sudah sepenuhnya bangkit berjalan ke arahku. Kugelitik dia, membuat Nessa mengeong manja padaku. Aku tertawa kecil melihatnya, dan kusodoorkan mangkuk susu itu. Nessa meminumnya. Kupandangi Nessa sambil tersenyum. Sepertinya si kucing hitam ini justru membuat hari ini lebih baik.
            Kata siapa kucing hitam tidak bisa jadi teman baikmu?
***

            Keesokan harinya, setelah menolak ajakan Tere lagi, akupun ke kebun belakang, membawa susu dan gelang kecil yang mungkin muat di kakinya. Gelang ini kubuat semalaman, kuharap Nessa suka.
            Nessa sedang duduk di atas peti, mengeong begitu melihatku lalu melompat dan berputar-putar di kakiku. Sorot matanya tak sabaran. Aku tertawa dan kugelitiki lagi. Kuambil gelang dari sakuku dan kupasangkan di kakinya. Sepertinya Nessa suka. Ia berputar-putar lagi di kakiku, mengeong lalu mengendus-endus sakuku.
            Sepertinya ia mencium teri kering yang kubawa dari rumah. Kukeluarkan dan ia pun memakannya dengan lahap. Selagi makan kutuang susu cair putih itu di mangkuk.
            Selesai makan teri, kusodorkan mangkuk susu itu. Nessa menjilatinya sedikit, lalu memandangku. Sepertinya dia sadar aku sedikit sedih.
            “Minumlah,” bujukku.
            Tapi Nessa tidak minum lagi, justru ia berjalan ke arahku dan bergelayut di kakiku. Matanya penuh rasa ingin tahu, kurasa ia ingin aku bercerita padanya.
            “Orang yang aku cari tidak masuk,” kataku lirih. Kuamati Nessa, memastikan tidak ada alat perekam atau semacamnya. Sepertinya itu mustahil.
            “Meong,” Nessa mengeong pendek, menurutku seperti bertanya kenapa.
            “Dia ada olimpiade, harus ke luar… negeri,” kenyataan ia berkilo-kilo meter jauhnya dari sini membuatku sedih lagi. “Dia pintar, anak kesayangan guru, aktif organisasi, punya banyak teman, nilai-nilainya selalu bagus, dan punya senyum yang …” tanpa sadar pipiku memerah. Dalam hati kuteruskan manis.
            “Meoong,” sepertinya Nessa menggodaku.
            “Kelasnya dua kelas dari kelasku, di barat, kalau istirahat aku suka melihat ke situ, kalau-kalau dia datang,” kataku malu-malu. “Sudah lama aku memperhatikannya, sejak MOS, tapi ia tidak tahu namaku,” kataku sedih. “Dia tidak mengenalku,” lanjutku.
            “Miauw?” dalam benakku ia seperti bertanya siapa.
            Pipiku memanas, pasti sudah merah. “Seangkatan denganku juga kok, namanya…” aku terdiam sejenak. Nessa memandangiku ingin tahu, dan kubalas memandanginya. Sepertinya ia menyeringai dan matanya sedikit nakal.
            “Miauuuw…” kali ini nadanya menuntut ingin tahu.
            “Namanya…” pipiku memanas, astaga kalau Nessa manusia pasti dia tertawa. Mata Nessa memandangiku tidak sabar.
            “Nathan,” aku pun menyerah.
            Mata Nessa memandangku, sepertinya tampak takjub. Aku tidak tahu apa dia mengerti atau tidak, tapi curhat dengan kucing mungkin kelihatan tidak waras, tapi anehnya aku merasa lega. Kucing kan tak bisa memberitahu siapa pun.
            Mata Nessa seperti menggodaku, ia mengeong cepat dan berputar-putar lagi, lalu minum susunya kembali.
            Aku baru saja memberitahu rahasiaku pada seekor kucing, rahasia yang bahkan Tere teman terdekatku nomer satu tidak tahu.
            Kata siapa kucing hitam tidak bisa jadi teman curhat?
***

            Beberapa hari ini aku rajin main ke tempat Nessa. Tidak enak sih menolak ajakan Tere, Viona dan Nada, tapi rasanya aku sudah terikat dengan Nessa. Tentu saja aku merahasiakan hal itu.
            Beberapa hal membuatku penasaran, seperti apotek hidup itu. Setiap istirahat aku ke sana pot-pot dan tanaman di sana sudah basah, tandanya sudah disirami seseorang. Mungkin tukang kebun waktu sedang jam pelajaran. Kemudian siapa yang merawat Nessa sebelum aku muncul. Kenapa orang itu tak pernah terlihat lagi? Dan nama Nessa juga unik bukan hal yang pertama kali terlintas di benak banyak orang ketika melihat seekor kucing. Kalau aku mungkin memberinya nama Si Hitam, amat sangat tidak kreatif.
            Nessa senang bermain dan berlari, kalau begitu aku harus berhati-hati kalau sedang mengejarnya agar tidak menabrak pot. Keseimbanganku memang payah, dan aku yakin Nessa mengejekku akan hal itu.
            Kubawakan mainan baru untuknya, kelereng warna-warni dan juga tikus mainan yang bisa jalan kalau ekornya ditarik. Nessa terlihat menyukainya, terutama tikus mainan itu. Nessa suka berlari dan amat lincah, dan yang membuatku iri ia tak pernah menabrak pot.
            Sudah 5 hari aku bermain bersama Nessa. Aktivitasku ini tentu saja membuat teman-temanku curiga. Seperti tadi pagi, aku dituduh Tere punya pacar diam-diam karena sering menghilang saat waktu senggang, baik pagi hari sebelum bel masuk, istirahat, atau pulang sekolah. Viona mengira aku sedang punya misi rahasia kerja sama dengan CIA untuk memata-matai seorang teroris, sementara Nada justru mengira aku sedang menggali harta karun rahasia di daerah sekitar sekolah.
            Aneh. Untung tak satupun berusaha membuntutiku.
            Aku sedang menggulung benang wol yang habis dimainkan Nessa ketika kudengar Nessa mengeong pelan. Ia menghentikan permainannya, telinganya bergoyang-goyang. Aku punya firasat ada seseorang datang.
            Samar-samar aku mendengar langkah seseorang, dan ada yang memanggil. “Nessa…”
            Suaranya pelan, tidak jelas di telingaku. Tapi jelas di telinga Nessa. Ia langsung meninggalkan permainannya dan berlari ke luar. Aku ingin mengejarnya, tapi tertahan. Sepertinya itu pemilik Nessa. Aku takut menemuinya, apa katanya nanti? Mungkin ia akan marah karena telah merebut Nessa-nya, atau dianggap mengacaukan kebun ini.
            Suara itu mendekat, aku bisa mendengar suara Nessa mengeong manja. Pintu bambu terbuka perlahan.
            Aku terkejut, nyaris shock.
            Orang itu menggendong Nessa yang kini menatapku.  Lututku lemas, tapi aku berusaha tetap tegak. Orang itu memandangiku, ekspresinya bingung. Kemudian ia beralih ke wol yang aku bawa.
            Nessa melompat turun, mengeong ke orang itu, lalu berlari ke arahku, berputar-putar mengelilingi kakiku,  lalu kembali berlari ke orang itu. Bergelayut manja di kakinya, tapi matanya ke arahku.
            Orang itu tampak bingung, lalu tampak mengerti. Digendongnya lagi Nessa dan digelitiki lehernya. Kemudian orang itu berjalan pelan ke arahku.
“Kamu yang memberi Nessa gelang ini ya?” tanyanya ramah. Aku tidak menjawab, hanya mengangguk tolol.
Tatapan orang itu beralih ke mangkuk susu yang hampir habis, lalu ke tikus mainan. Tatapannya sedikit takjub.
“Dan kamu yang merawat Nessa selama aku pergi ya? Astaga terima kasih sekali,” katanya riang sambil menatapku. “Aku tidak memberitahu siapapun soal Nessa jadi aku sedikit khawatir tak ada yang merawatnya. Dia yang aku khawatirkan,” katanya lalu tertawa kecil sambil mengusap punggung Nessa. “Pak Taryo tahu soal Nessa, dia yang membantuku membuat kebun ini, tapi dia terlalu sibuk untuk menjaga Nessa,” terangnya.
Orang itu kini berjalan makin dekat ke arahku, membuatku gugup. Kulihat sekilas mata Nessa masih menatapku, tatapan nakal penuh kemenangan.
“Aku rasa kita belum kenalan,” katanya ramah lalu mengulurkan tangan kanannya. “Kamu anak kelas 8D kan?” tanyanya.
Aku memandang matanya yang terbingkai kaca mata tipis itu. Lalu beralih ke senyumnya. Astaga, melihatnya dari dekat begini. Aku mengangguk pelan, merasa yakin bahwa aku pasti mirip seorang idiot sekarang. Perlahan kusambut uluran tangannya, jantungku berdetak tak karuan.
“Aku Nathan, kamu?”
“Ni..na,” jawabku terbata-bata.
Nessa melompat dari lengannya menuju aku. Kugendong ia gemas, tapi sepertinya Nessa tak peduli. Ia mengeong riang yang di telingaku seperti menggoda.
“Sepertinya Nessa suka sekali denganmu, aku merawatnya dari ia masih bayi, syukurlah ada yang tidak takut padanya,” kata Nathan. “Mungkin kita bisa bermain bersama Nessa, kau boleh berkunjung ke sini sesukamu,” tawarnya lagi. “Nessa tak nakal kan?”
Aku menggeleng, sementara Nessa turun dan mengambil benang wol dari tanganku, kembali memainkannya.
Nathan menghampiri Nessa dan mereka bermain bersama. Kalau boleh jujur ia tampak berbeda dengan Nathan yang biasanya, ia terlihat lebih kekanakan dan riang, tapi toh aku tetap menyukainya.
“Mau ikut?” tawar Nathan ramah.
Dan, kata siapa kucing hitam tidak bisa mengantarkanmu ke cowok yang kamu suka?

~fin~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ada comment ada senyum :)